TUGAS TERSTRUKTUR (TATAP MUKA KE-2 DAN KE-3
1)
Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi
utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia
pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh
masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
Jawab :
Pada teori kognitif pembelajaran
multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa
prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan
e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri
dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan
pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research)
dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan
hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer,
2011).
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
Salah atu contoh, dalam
materi ikatan kimia, media yang dapat digunakan adalah power point, yaitu dengan menampilkan struktur
ikatan kimia. Jika tidak terdapat alat yang mendukung dapat juga menggunakan
molimod. Untuk menerapkan media tersebut harus diperhatikan juga mengenai
prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan informasi agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2.
Jelaskan bagaimana teori dual coding
dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
Jawab:
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan
memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat
ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang
disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan
memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi
yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau
ilustrasi saja.
Sebagai tambahan kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan
bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori
ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara
menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang
tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki
masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga
menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang
digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal
dan nonverbal (Najjar, 1995). TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran
terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga
menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi
terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi
eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang
diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam
individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang
mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Gagne membuat beberapa rumusan untuk
menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam
pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a)
Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan
untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta
didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b)
Memulai pelajaran dengan menyampaikan
tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah
menerima pelajaran.
c)
Guru harus mengingatkan kembali konsep
yang telah dipelajari sebelumnya.
d)
Guru siap untuk menyampaikan materi
pelajaran.
e)
Dalam pembelajaran guru memberikan
bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f)
Guru memberikan motivasi untuk
memunculkan respon siswa.
g)
Guru memberikan umpan balik atau
penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun
tulisan.
h)
Mengevaluasi hasil belajar
i)
Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Model
belajar pemrosesan informasi
ini sering pula
disebut model kognitif information processing, karena dalam
proses belajar ini tersedia
tiga taraf struktural sistem informasi,
yaitu:
a)
Sensory
atau intake register:
informasi masuk ke
sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk
periode waktu terbatas.
Agar tetap dalam sistem,
informasi masuk ke
working memory yang
digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b)
Working memory: pengerjaan atau
operasi informasi berlangsung di working
memory, dan di
sini berlangsung berpikir
yang sadar. Kelemahan
working memory sangat terbatas
kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah
kecil informasi secara serempak.
c)
Long-term memory,
yang secara potensial
tidak terbatas kapasitas
isinya sehingga mampu menampung seluruh
informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya
adalah betapa sulit
mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Menurut teori pengkodean ganda manusia
memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi
visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif
menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas.
Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat
multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi
pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang
berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan Temuan-temuan penelitian
(Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding
theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk.
PRINSIP & KARAKTERISTIK MODEL
PEMBELAJARAN PEMROSESAN INFORMASI
Menurut Suharnan (2005)
persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang
disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi
stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti, mata, telinga dan
hidung. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa persepsi
adalah proses penginterpretasian informasi yang diterima menggunakan alat
indera. Kognisi biasanya di definisikan secara sederhana sebagai perolehan
pengetahuan. Ada tiga aspek yang relevan dalam persepsi yang berhubungan dengan
kognisi manusia yaitu:
1. Pencatatan indera.
Pencataan indera adalah sebuah
sistem ingatan yang dirancang untuk menyimpan sebuah rekaman mengenai informasi
yang diterima oleh sel-sel reseptor. Pencatatan indera juga dikenal sebagai
ingatan sensory yang dibedakan menjadi dua macam yaitu, iconic yaitu sistem
pencatatan indera terhadap informasi visual, gambar dan benda konkrit dan
echonic yaitu sistem pencatatan indera terhadap informasi berupa suara.
2.
Pengenalan pola.
Pengenalan pola adalah proses transformasi dan
pengorganisasian informasi yang masih kasar agar mempunyai makna atau arti
tertentu. Aspek ini lebih dalam dari hanya sekedar menyimpan informasi yang
masuk melalui reseptor, dengan kata lain dapat pula dikatakan bahwa aspek
pengenalan pola ini adalah sebuah upaya untuk menata informasi yang masuk
sesuai dengan karakteristik yang menonjol untuk ditempatkan sesuai dengan
jenisnya.
3. Perhatian.
Perhatian adalah aspek
yang ketiga, yang diartikan sebagai proses pemusatan aktivitas mental atau
proses konsentrasi pikiran dengan mengabaikan rangsangan lain yang tidak berkaitan.
Aktivitas ini menuntut pemusatan konsentrasi pikiran pada hal-hal yang menonjol
dari sebuah informasi dan bekerja secara intens terhadap informasi tersebut
dengan mengabaikan hal-hal yang tidak terkait.
Ingatan atau memori
merujuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi yang telah
diperoleh seorang individu sepanjang masa. Hampir semua aktivitas manusia baik
yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor pasti melibatkan ingatan.
Oleh karena itu ingatan menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai proses
yang dialami manusia.(Ellis dan hunt, 1993; Matlin, 1989). Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Per- kembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan
ilmu komputer, dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya pada proses belajar
dan menggambarkan cara individu memani- pulasi simbol dan memproses informasi.
Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari sejumlah
faktor yang saling berinteraksi.
Aplikasi Teori Pembelajaran Pemrosesan
Informasi Dalam Pembelajaran.
Dalam aplikasi teori
pemrosesan informasi dalam pembelajaran, kita dapat mengambil teori yang
disampaikan oleh Gagne tentang tahapan belajar dari fakta sampai pemecahan
masalah, serta tahapan tujuan dari yang rendah sampai ke tinggi, dapat kita
lihat pada keterangan yang dituliskan Harjanto tentang pelajaran melukis,
seperti berikut ini :
1.
Siswa dapat menyebutkan beberapa alat
yang dipergunakan untuk mengambar
berwarna (fakta).
2.
Siswa dapat mengidentifikasi warna panas
dan warna dingin (konsep).
3.
Siswa dapat menyatakan bahwa penempatan
atau pemakaian kedua jenis warna tersebut akan saling berpengaruh (prinsip).
4.
Siswa dapat melukis dengan komposisi
warna yang harmonis (pemecahan masalah).
Manfaat teori pemrosesan informasi
antara lain:
1.
Membantu terjadinya proses pembelajaran
sehingga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah.
2.
Menjadikan strategi pembelajaran dengan
menggunakan cara berpikir yang
berorientasi pada proses lebih menonjol.
3.
Kapabilitas belajar dapat disajikan
secara lengkap.
4.
Prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan-hambatan terhadap implementasi
teori pemrosesan informasi antara lain:
a)
Tidak semua individu mampu melatih
memori secara maksimal.
b)
Proses internal yang tidak dapat diamati
secara langsung
c)
Tingkat kesulitan mengungkap kembali
informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan.
d)
Tidak menyediakan deskripsi yang memadai
mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi.
e)
Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
f)
Kemampuan berpikir/ daya otak manusia
terbatas. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas
pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.
g)
Anak membutuhkan waktu dan usaha untuk
melatih encoding (penyandian), agar
dapat menyandi secara otomatis.
saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
BalasHapusKejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
terima kasih atas tambahan materi yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagi para pembaca.
HapusSaya ingin menambahkan sedikit materi anda
BalasHapusModel belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
terima kasih saudari mia atas tambahan yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagipara pembaca.
HapusBaiklah, saya ingin menambahkan . . .
BalasHapusInformasi diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian, informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan informasi hingga 15 detik.
Berdasar penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
Sedangkan Menurut, Slavin (2000) Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.Terima Kasih . . .
terima kasih ats tambahan materi dari anda, semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Hapusassalam mualaikum wr wb disini saya tidak memahami tentang kekuranggan dari pembahasan di atas nah disini saya inggin bertanya
BalasHapusbagaimana menurut saudari mengatasi Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak?
tolong jelaskan?
baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari sauara tesa.
BalasHapusWorking Memory
Para ahli kognitif telah banyak
mengkaji peranan kemampuan pemrosesan
informasi sederhana yang menjadi perantara
atau variabel perbedaan individual dalam
proses kognisi yang kompleks seperti
pemahaman, penalaran dan pencapaian
prestasi akademik. Proses belajar akademik
pada dasarnya berlangsung pada sebagian
besar aspek kognitif manusia. Unsur yang
sangat berpengaruh adalah unsur memori
dan unsur perhatian. Makin besar perhatian
yang diberikan seseorang pada suatu materi
maka materi itu akan tersimpan dalam sistem memorinya. Memori manusia terbagi
atas memori jangka pendek dan memori
jangka panjang. Kerangka teori kognitif
tentang working memory dan teori dual-coding
dari Paivio (1991, dalam Solso, 1998)
selanjutnya menjadi landasan teoritis dalam
kajian ini.
Working memory
memiliki sistem
tersendiri untuk mengolah informasi visual
dan informasi audio. Sehingga ada memori
visual dan memori audio dalam sistem
kognitif individu. Teori kognitif tentang
working memory
menyatakan bahwa
berdasarkan prinsip
modality,
terutama dalam
proses belajar dengan menggunakan
multimedia, kata-kata yang digunakan perlu
disajikan dalam bentuk narasi audio bukan
secara visual berupa teks pada layar.
Alasannya, dalam proses memori jangka
pendek, presentasi bersifat audio lebih
mudah diingat daripada presentasi visual.
Penney (1989) menyatakan bahwa materi
presentasi merupakan bauran dari modalitas
audio dan visual dan menunjukkan bahwa
kapasitas efektif dari
working memory
bisa
ditingkatkan dengan menggunakan saluran
visual dan audio. Hal ini juga harus didukung
dengan
contiguity
dalam proses belajar yang
menggunakan multimedia sebagai media
instruksi, dimana kata dan gambar harus
tersaji hampir bersamaan. Artinya tidak ada
selisih waktu yang lama antara kata dan
gambar. Selain itu, kata dan gambar tidak
dalam tempat terpisah sehingga penyajian
kata dan gambar ini bersifat
contiguous, artinya terjadi secara serempak (Mayer dan Moreno,1998)
assalamu'alaikum wr.wb. saya frandi mardiansyah, saya ingin menambahkan sedikit materi Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen.
BalasHapusterima kasih atas tambahan materi anda semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Hapusassalmualaikum wr wb,saya ingin menambahkan jawaban nomor 2 Prinsip Psikologis dalam Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran
BalasHapusPemilihan media pembelajaran tentu tidak boleh sembarangan dalam menentukan, akan sangat baik jika mengikuti prinsip-prinsip tertentu dalam pemilihan media pembelajaran. Dalam penggunaan media pembelajaran juga perlu mendapat perhatian khusus terutama bagaimana penggunaan media serta hal-hal yang mempengaruhi. Faktor pada siswa atau peserta didik juga perlu diperhatikan agar media pembelajaran dapat digunakan secara baik dan benar dan mampu mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dengan baik, bahkan diharapkan media pembelajaran mampu mengambil peranan penting dalam proses pembelajaran.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan harus mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Arsyad (2013: 71) mengemukakan dari segi teori belajar, terdapat beberapa prinsip psikologis yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran. Prinsip-prinsip psikologis dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tersebut adalah:
1. Motivasi
Media pembelajaran yang dipilih dan digunakan hendaknya mampu menumbuhkan motivasi atau minat dan keinginan belajar peserta didik. Proses pembelajaran yang dialami siswa akan sangat baik jika memberikan kesan dan pengalaman yang bermakna sehingga siswa mudah untuk mengingat dan memahami materi pembelajaran yang diterima.
terima kasih atas tambahan materi anda semoga bermanfaat bagi para pembaca.
HapusTeori dual-coding menyatakan bahwa informasi bisa diberi kode, disimpan, dan diperoleh kembali dari dua sistem yang berbeda secara fundamental, satu menyesuaikan dengan informasi verbal, yang lain menyesuaikan dengan image atau informasi visual. Presentasi-presentasi dual-mode bisa memperluas kapasitas memori kerja jika satu bagian dari instruksinya (misalnya, penjelasan-penjelasan tekstual) dihadirkan dalam bentuk auditory dan yang lain (misalnya, diagram) dalam bentuk visual, desain pesan seperti ini dapatmeningkatkan jumlah informasi yang bisa diproses tanpa muatan kognitif yang berlebih. Pebelajar sebagai penerima informasi mengintegrasikan kata-kata dan gambar secara lebih mudah saat kata-kata dihadirkan secara auditori daripada secara visual karena menggunakan prosesor-prosesor auditori dan visual dalam memori kerja secara efektif menghilangkan muatan kognitif yang berlebihan dari saluran visual.
BalasHapusterima kasih atas tambahan materi dari anda, semoga dapat bermanfaat bagi para bembaca.
Hapus