Selasa, 21 Februari 2017

TUGAS TERSTUKTUR DAN TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA

     TUGAS TERSTRUKTUR (TATAP MUKA KE-2 DAN KE-3

1) Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
Jawab : 

Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer, 2011).

1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak.  Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka.  Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
 Salah atu contoh, dalam materi ikatan kimia, media yang dapat digunakan adalah  power point, yaitu dengan menampilkan struktur ikatan kimia. Jika tidak terdapat alat yang mendukung dapat juga menggunakan molimod. Untuk menerapkan media tersebut harus diperhatikan juga mengenai prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan informasi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2.      Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
Jawab:
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003  telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.

Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). 
  



TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA


Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.

Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Gagne membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a)      Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b)      Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c)      Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d)     Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e)      Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f)       Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g)      Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h)      Mengevaluasi hasil belajar
i)        Memperkuat retensi dan transfer belajar.

Model  belajar  pemrosesan  informasi  ini  sering  pula  disebut  model  kognitif information processing, karena dalam proses belajar  ini  tersedia  tiga  taraf struktural sistem informasi, yaitu:
a)      Sensory  atau  intake  register:  informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register,  tetapi  hanya  disimpan  untuk  periode  waktu  terbatas.  Agar  tetap dalam  sistem,  informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b)      Working memory: pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory,  dan  di  sini  berlangsung  berpikir  yang  sadar.  Kelemahan  working memory  sangat  terbatas  kapasitas  isinya  dan memperhatikan  sejumlah  kecil informasi secara serempak.
c)      Long-term  memory,  yang  secara  potensial  tidak  terbatas  kapasitas  isinya sehingga mampu menampung seluruh  informasi yang sudah dimiliki peserta didik.  Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya.

Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan  memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk.

PRINSIP & KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN PEMROSESAN INFORMASI
Menurut Suharnan (2005) persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti, mata, telinga dan hidung. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa persepsi adalah proses penginterpretasian informasi yang diterima menggunakan alat indera. Kognisi biasanya di definisikan secara sederhana sebagai perolehan pengetahuan. Ada tiga aspek yang relevan dalam persepsi yang berhubungan dengan kognisi manusia yaitu: 
 1. Pencatatan indera. 
Pencataan indera adalah sebuah sistem ingatan yang dirancang untuk menyimpan sebuah rekaman mengenai informasi yang diterima oleh sel-sel reseptor. Pencatatan indera juga dikenal sebagai ingatan sensory yang dibedakan menjadi dua macam yaitu, iconic yaitu sistem pencatatan indera terhadap informasi visual, gambar dan benda konkrit dan echonic yaitu sistem pencatatan indera terhadap informasi berupa suara. 
2. Pengenalan pola. 
Pengenalan pola adalah proses transformasi dan pengorganisasian informasi yang masih kasar agar mempunyai makna atau arti tertentu. Aspek ini lebih dalam dari hanya sekedar menyimpan informasi yang masuk melalui reseptor, dengan kata lain dapat pula dikatakan bahwa aspek pengenalan pola ini adalah sebuah upaya untuk menata informasi yang masuk sesuai dengan karakteristik yang menonjol untuk ditempatkan sesuai dengan jenisnya. 
3. Perhatian. 
Perhatian adalah aspek yang ketiga, yang diartikan sebagai proses pemusatan aktivitas mental atau proses konsentrasi pikiran dengan mengabaikan rangsangan lain yang tidak berkaitan. Aktivitas ini menuntut pemusatan konsentrasi pikiran pada hal-hal yang menonjol dari sebuah informasi dan bekerja secara intens terhadap informasi tersebut dengan mengabaikan hal-hal yang tidak terkait.
Ingatan atau memori merujuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi yang telah diperoleh seorang individu sepanjang masa. Hampir semua aktivitas manusia baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor pasti melibatkan ingatan. Oleh karena itu ingatan menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai proses yang dialami manusia.(Ellis dan hunt, 1993; Matlin, 1989). Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Per- kembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer, dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan cara individu memani- pulasi simbol dan memproses informasi. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari sejumlah faktor yang saling berinteraksi.

Aplikasi Teori Pembelajaran Pemrosesan Informasi Dalam Pembelajaran.
Dalam aplikasi teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran, kita dapat mengambil teori yang disampaikan oleh Gagne tentang tahapan belajar dari fakta sampai pemecahan masalah, serta tahapan tujuan dari yang rendah sampai ke tinggi, dapat kita lihat pada keterangan yang dituliskan Harjanto tentang pelajaran melukis, seperti berikut ini :
1.      Siswa dapat menyebutkan beberapa alat yang dipergunakan untuk mengambar  berwarna (fakta).
2.      Siswa dapat mengidentifikasi warna panas dan warna dingin (konsep).
3.      Siswa dapat menyatakan bahwa penempatan atau pemakaian kedua jenis warna tersebut akan saling berpengaruh (prinsip).
4.      Siswa dapat melukis dengan komposisi warna yang harmonis (pemecahan masalah).

Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
1.      Membantu terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah.
2.      Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang  berorientasi pada proses lebih menonjol.
3.      Kapabilitas belajar dapat disajikan secara lengkap.
4.      Prinsip perbedaan individual terlayani.

Hambatan-hambatan terhadap implementasi teori pemrosesan informasi antara lain:
a)      Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal.
b)      Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
c)      Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan.
d)     Tidak menyediakan deskripsi yang memadai mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi.
e)      Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
f)       Kemampuan berpikir/ daya otak manusia terbatas. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.
g)      Anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih encoding  (penyandian), agar dapat menyandi secara otomatis.

14 komentar:

  1. saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
    Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
    1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
    2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
    3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
    4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
    5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
    6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
    7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
    8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas tambahan materi yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

      Hapus
  2. Saya ingin menambahkan sedikit materi anda
    Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
    1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
    2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
    3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih saudari mia atas tambahan yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagipara pembaca.

      Hapus
  3. Baiklah, saya ingin menambahkan . . .
    Informasi diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian, informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan informasi hingga 15 detik.
    Berdasar penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
    Sedangkan Menurut, Slavin (2000) Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.Terima Kasih . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ats tambahan materi dari anda, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

      Hapus
  4. assalam mualaikum wr wb disini saya tidak memahami tentang kekuranggan dari pembahasan di atas nah disini saya inggin bertanya
    bagaimana menurut saudari mengatasi Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak?
    tolong jelaskan?

    BalasHapus
  5. baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari sauara tesa.
    Working Memory
    Para ahli kognitif telah banyak
    mengkaji peranan kemampuan pemrosesan
    informasi sederhana yang menjadi perantara
    atau variabel perbedaan individual dalam
    proses kognisi yang kompleks seperti
    pemahaman, penalaran dan pencapaian
    prestasi akademik. Proses belajar akademik
    pada dasarnya berlangsung pada sebagian
    besar aspek kognitif manusia. Unsur yang
    sangat berpengaruh adalah unsur memori
    dan unsur perhatian. Makin besar perhatian
    yang diberikan seseorang pada suatu materi
    maka materi itu akan tersimpan dalam sistem memorinya. Memori manusia terbagi
    atas memori jangka pendek dan memori
    jangka panjang. Kerangka teori kognitif
    tentang working memory dan teori dual-coding
    dari Paivio (1991, dalam Solso, 1998)
    selanjutnya menjadi landasan teoritis dalam
    kajian ini.
    Working memory
    memiliki sistem
    tersendiri untuk mengolah informasi visual
    dan informasi audio. Sehingga ada memori
    visual dan memori audio dalam sistem
    kognitif individu. Teori kognitif tentang
    working memory
    menyatakan bahwa
    berdasarkan prinsip
    modality,
    terutama dalam
    proses belajar dengan menggunakan
    multimedia, kata-kata yang digunakan perlu
    disajikan dalam bentuk narasi audio bukan
    secara visual berupa teks pada layar.
    Alasannya, dalam proses memori jangka
    pendek, presentasi bersifat audio lebih
    mudah diingat daripada presentasi visual.
    Penney (1989) menyatakan bahwa materi
    presentasi merupakan bauran dari modalitas
    audio dan visual dan menunjukkan bahwa
    kapasitas efektif dari
    working memory
    bisa
    ditingkatkan dengan menggunakan saluran
    visual dan audio. Hal ini juga harus didukung
    dengan
    contiguity
    dalam proses belajar yang
    menggunakan multimedia sebagai media
    instruksi, dimana kata dan gambar harus
    tersaji hampir bersamaan. Artinya tidak ada
    selisih waktu yang lama antara kata dan
    gambar. Selain itu, kata dan gambar tidak
    dalam tempat terpisah sehingga penyajian
    kata dan gambar ini bersifat
    contiguous, artinya terjadi secara serempak (Mayer dan Moreno,1998)

    BalasHapus
  6. assalamu'alaikum wr.wb. saya frandi mardiansyah, saya ingin menambahkan sedikit materi Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas tambahan materi anda semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.

      Hapus
  7. assalmualaikum wr wb,saya ingin menambahkan jawaban nomor 2 Prinsip Psikologis dalam Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran
    Pemilihan media pembelajaran tentu tidak boleh sembarangan dalam menentukan, akan sangat baik jika mengikuti prinsip-prinsip tertentu dalam pemilihan media pembelajaran. Dalam penggunaan media pembelajaran juga perlu mendapat perhatian khusus terutama bagaimana penggunaan media serta hal-hal yang mempengaruhi. Faktor pada siswa atau peserta didik juga perlu diperhatikan agar media pembelajaran dapat digunakan secara baik dan benar dan mampu mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dengan baik, bahkan diharapkan media pembelajaran mampu mengambil peranan penting dalam proses pembelajaran.
    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan harus mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Arsyad (2013: 71) mengemukakan dari segi teori belajar, terdapat beberapa prinsip psikologis yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran. Prinsip-prinsip psikologis dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tersebut adalah:
    1. Motivasi
    Media pembelajaran yang dipilih dan digunakan hendaknya mampu menumbuhkan motivasi atau minat dan keinginan belajar peserta didik. Proses pembelajaran yang dialami siswa akan sangat baik jika memberikan kesan dan pengalaman yang bermakna sehingga siswa mudah untuk mengingat dan memahami materi pembelajaran yang diterima.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas tambahan materi anda semoga bermanfaat bagi para pembaca.

      Hapus
  8. Teori dual-coding menyatakan bahwa informasi bisa diberi kode, disimpan, dan diperoleh kembali dari dua sistem yang berbeda secara fundamental, satu menyesuaikan dengan informasi verbal, yang lain menyesuaikan dengan image atau informasi visual. Presentasi-presentasi dual-mode bisa memperluas kapasitas memori kerja jika satu bagian dari instruksinya (misalnya, penjelasan-penjelasan tekstual) dihadirkan dalam bentuk auditory dan yang lain (misalnya, diagram) dalam bentuk visual, desain pesan seperti ini dapatmeningkatkan jumlah informasi yang bisa diproses tanpa muatan kognitif yang berlebih. Pebelajar sebagai penerima informasi mengintegrasikan kata-kata dan gambar secara lebih mudah saat kata-kata dihadirkan secara auditori daripada secara visual karena menggunakan prosesor-prosesor auditori dan visual dalam memori kerja secara efektif menghilangkan muatan kognitif yang berlebihan dari saluran visual.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas tambahan materi dari anda, semoga dapat bermanfaat bagi para bembaca.

      Hapus